Rabu, 09 November 2011

SENI

SENI

                                                                        PATUNG


Patung itu namanya Tugu Tani. Kalau yang satu itu Patung Pancoran. Demikian kira-kira kalimat seorang ibu kala anaknya menanyakan tentang kedua patung yang dilihatnya baik langsung maupun via TV. Hampir semua orang sudah cukup maklum dengan keberadaan patung-patung di atas, juga beberapa patung yang banyak bertebaran di seputaran kota Jakarta. Sebagai ibukota negara, wajar saja jika terlihat banyak patung menghiasi berbagai sudut kota dan tempat-tempat umum di kota ini. Namun, jadi satu tanda tanya, adakah kita benar-benar mengenal patung-patung itu terutama mengetahui latar belakang dibuatnya patung tersebut?
Mungkin tidak semua orang tahu, apa sih nama sebenarnya dari beberapa patung/tugu yang tepat berada di Kota Metropolitan, Jakarta..? Hal unik inilah yang akan diulas secara singkat mengenai beberapa patung di Jakarta, kota dengan semboyan Jaya Raya ini. Berikut adalah goresan tinta untuk kita mengenal lebih dekat lagi serta memahami apa dan mengapa patung itu dibuat.
Patung Selamat Datang
Patung yang lebih populer disebut Patung Bundaran HI ini, nama sebenarnya adalah Patung Selamat Datang. Patung ini terdiri dari tugu setinggi lebih kurang 30 meter dari tanah dengan sepasang pemuda pemudi diatasnya sedang melambai tangan penuh semangat.Tinggi patung dari kepala sampai kaki 5 meter. Sedangkan tinggi seluruhnya dari kaki hingga tangan yang melambai adalah 7 meter. Tugu/patung ini ditempatkan di tengah bundaran besar di tengah persimpangan jalan, pertemuan Jl. Sudirman dan Jl. MH. Thmrin, Jakarta. Bundaran itu sendiri berupa kolam air mancur yang amat indah.
Patung Selamat Datang dibangun untuk mengucapkan selamat datang kepada para atlet yang akan berlaga di Asian Games IV yang dilaksanakan di Jakarta pada tahun 1962. Patung yang tepat berada di depan Hotel Indonesia itu, selain menjadi gerbang masuk Kota Jakarta, juga merupakan pintu gerbang dalam rangkaian kegiatan pertandingan yang diselenggarakan di Istora Senayan masa itu. Mengapa demikian? Karena waktu itu kebanyakan tamu asing yang datang ke Jakarta melalui Bandara International Kemayoran dan singgah/menginap di Hotel Indonesia yang juga sengaja dibangun sebagai tempat bagi tamu asing tersebut. Asumsinya, sebelum masuk ke area hotel mereka mendapatkan ucapan selamat datang dari patung ini.
Adapun Tugu/patung yang terbuat dari Perunggu itu diresmikan oleh Presiden Soekarno pada Tahun 1962. Sketsa atau rancangan Patung Selamat Datang buat oleh mantan Gubernur DKI Jakarta, Henk Ngantung, dan pelaksana pembuatannya dikerjakan oleh Edhi Sunarso dalam kurun waktu satu tahun.
Patung Pahlawan
Karena bentuk patung ini menggambarkan seorang pria menggunakan caping (topi tani) dengan seorang Ibu yang sedang memberikan sebuah piring, banyak masyarakat menamakan patung ini Tugu Tani. Nama sesungguhnya dari patung ini adalah Patung Pahlawan.
Patung ini adalah pemberian dari Pemerintah Uni Soviet untuk Indonesia. Selain sebagai hadiah, patung ini juga sebagai manifestasi dari persahabatan kedua Negara. Patung tersebut dibuat oleh pematung ternama asal Rusia Matvel Manizer dan Otto Manizer di Uni Soviet. Kemudian dikirim ke Indonesia (Jakarta) menggunakan kapal laut. Lalu diresmikan pada Tahun 1963 dan terdapat sebuah plakat yang menempel di bawah patung yang berbunyi “HANJA BANGSA JANG MENGHARGAI PAHLAWAN PAHLAWANNJA DAPAT MENJADI BANGSA JANG BESAR”.
Mengapa Uni Soviet buatkan patung pahlawan dengan tema petani? Kala itu Presiden Soekarno melakukan kunjungan resmi ke sana dan diperkenalkan kepada dua orang pematung tersebut di atas. Diundanglah mereka berdua oleh Presiden Soekarno ke Indonesia dalam rangka mencari inspirasi mengenai perjuangan Indonesia dalam meraih kemerdekaan. Pada saat itu dimaksudkan untuk perjuangan membebaskan Irian Barat dari penjajahan Belanda.
Mereka pun mendatangi sebuah desa di wilayah Jawa Barat dan bertemu dengan penduduk setempat. Di desa tersebut kedua pematung ini mendengar sebuah kisah tentang seorang Ibu yang mengantar anaknya menuju medan perang. Sang Ibu memberikan dorongan semangat dan keberanian kepada sang anak untuk bertekad memenangkan perjuangan, dan juga agar selalu ingat akan orang tua dan tanah airnya. Ia kemudaian membekali anak laki-lakinya dengan nasi hasil tanakannya. Begitulah kisah yang mereka dengar dari rakyat di kawasan Jawa Barat. Cerita inilah yang menjadi Inspirasi dan kemudian mereka kembali ke Uni Soviet, kemudian dibuatlah patung itu yang diberi nama Patung Pahlawan.
Lokasi yang diambil untuk penempatan patung berbahan perunggu hingga saat ini dinilai sangat strategis, karena merupakan titik pertemuan arus lalu lintas sehingga dapat terlihat dari berbagai penjuru. Markas Korps Komando Angkatan Laut Republik Indonesia yang pada masa itu sedang berjuang membebaskan Irian Barat, berada tak jauh dari tempat ini.
Patung Dirgantara
Terletak di Jalan Gatot Subroto atau berseberangan dengan Markas Besar Angkatan Udara Republik Indonesia saat itu (Wisma Aldiron). Kebanyakan orang terutama warga Jakarta mengenal patung tersebut sebagai Patung Pancoran, sebenarnya patung ini bernama Patung Dirgantara.
Ide pembuatan patung ini tercetus langsung oleh Presiden Soekarno, karena beliau melihat keberanian atau kesatriaan dalam hal kedirgantaraan Indonesia. Namun bukan kendaraan/pesawatnya yang ditekan dalam pembuatan patung ini, melainkan dilihat dari sisi manusianya yang mempunyai sifat jujur, berani, dan bersemangat mengabdi kepada negara. Hingga dilambangkan dalam bentuk manusia yang mempunyai semangat keberanian bangsa Indonesia untuk menjelajah angkasa. Perancang Patung Dirgantara adalah Edhi Sunarso dan dikerjakan oleh pematung keluarga Arca Yogyakarta pimpinan Edhi Sunarso dengan lama pembuatan 1 tahun (1964 – 1965).
Patung ini terbuat dari perunggu, mempunyai berat 11 Ton dan terbagi dalam potongan-potongan yang masing-masing potongan beratnya 1 ton. Dalam menyusun potongan-potongan patung tersebut menggunakan alat pemasangan sederhana yaitu dengan menggunakan derek tarikan tangan. Selama proses pemasangan patung tersebut, Bung Karno selalu menungguinya hingga cukup merepotkan personil keamanan (aparat negara) dalam menjaga orang no.1 Indonesia ini. Dengan biaya pemasangan dari kantong pribadinya serta tekad yang bulat agar patung tersebut selesai dipasang, Bung Karno rela menjual sebuah mobil pribadinya. Pada akhirnya Patung Dirgantara selesai terpasang di akhir tahun 1966.
Patung Pembebasan Irian Barat
Dari keseluruhan patung-patung yang E-I ulas, patung inilah yang mempunyai bentuk dengan kharisma dan aura yang berbeda. Patung itu adalah Patung Pembebasan Irian Barat yang lebih beken disebut Patung Lapangan Banteng karena berada di dalam area Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.
Patung ini dibuat pada Tahun 1962, dimana pada saat itu bangsa Indonesia sedang berjuang untuk membebaskan wilayah Irian Barat (Irian Jaya, kemudian sekarang menjadi Papua) dari tangan Penjajah (Belanda). Patung ini tercipta atas ide Bung Karno pada saat Beliau sedang pidato di Yogyakarta dalam menggerakan massa untuk membantu membebaskan saudara-saudaranya di Irian Barat. Yang kemudian diterjemahkan oleh Henk Ngatung dalam bentuk sketsa.
Bentuk patung ini menggambarkan seseorang yang telah bebas dari belenggu (Penjajah Belanda). Patung itu terbuat dari perunggu dengan berat 8 ton, berdiri di atas tugu berbentuk palang tinggi kokoh setinggi 15 meter. Tinggi patung dari kaki hingga kepala adalah 9 meter atau tinggi keseluruhan sampai ujung tangan kurang lebih 11 meter. Patung ini diresmikan oleh Bung Karno pada tanggal 17 Agustus 1963.
Kini, kita sebagai warga negara Indonesia patut bangga dan mengaggumi segala jerih payah generasi terdahulu kita dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Kebanggaan dan kekaguman tersebut terutama kepada Presiden Republik Indonesia Pertama Ir. Soekarno yang telah mematrikan jasa-jasa pahlawan bangsa dan semua kerja keras Bangsa Indonesia dalam bentuk Tugu/Patung agar kita yang hidup di zaman kini dan masa mendatang dapat mengenang semua pengorbanan tersebut. Bahkan, keberadaan patung-patung itu kiranya akan memberi keteladanan, motivasi, dan inspirasi bagi kita semua dan generasi mendatang dalam melanjutkan perjuangan dan kerja keras Bangsa membangun negara ini.
Sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak akan pernah luntur ditelan zaman dan akan tetap lestari dalam ingatan setiap anak negeri di nusantara ini. Tutur demi tutur dari generasi ke generasi akan selalu sambung-menyambung, mengingatkan anak-cucu bangsa ini, tentang kedigdayaan dan heroisme generasi masa lalu. Patung-patung itu senyatanya tidak dapat berkata apa-apa, namun mampu menceritakan semuanya untuk selamanya. Selama mereka masih di sana, selama patung-patung itu masih tegak berdiri dengan kokoh di sana, di tempatnya kini. Oleh karena itu, amat tidak berlebihan, jika kita yang hidup sekarang ini berusaha keras menjaga, merawat dan melestarikannya. Lebih daripada itu, apakah generasi kita (baca: pemerintah) saat ini mampu memberikan kontribusi melahirkan patung-patung penghias kota di masing-masing daerah yang akan menjadi sumber inspirasi bagi bangsa ini? Semoga. (teks&foto: Yosef Ferdyana

ELEKTRONIKA

ELEKTRONIKA

                                             TRANSISTOR RADIO
A transistor radio is a small portable radio receiver using transistor-based circuitry. Following their development in 1954 they became the most popular electronic communication device in history, with billions manufactured during the 1960s and 1970s. Their pocket size sparked a change in popular music listening habits, for the first time allowing people to listen to music anywhere they went. In the 1970s their popularity declined as other portable media players such as boom boxes and portable cassette players took over.

Contents

 Background

A five-transistor radio with back open, showing parts.
Bell Laboratories demonstrated the first transistor on December 23, 1947.[1] The scientific team at Bell Laboratories responsible for the solid-state amplifier included William Shockley, Walter Houser Brattain, and John Bardeen.[2] After obtaining patent protection, the company held a news conference on June 30, 1948, at which a prototype transistor radio was demonstrated.[3] There are many claimants to the title of the first company to produce practical transistor radios, often incorrectly attributed to Sony (originally Tokyo Tsushin Kogyo). Texas Instruments had demonstrated all-transistor AM (amplitude modulation) radios as early as 1952, but their performance was well below that of equivalent vacuum tube models. A workable all-transistor radio was demonstrated in August 1953 at the Düsseldorf Radio Fair by the German firm Intermetall. It was built with four of Intermetall's hand-made transistors, based upon the 1948 invention of Herbert Mataré and Heinrich Welker. However, as with the early Texas Instruments units (and others) only prototypes were ever built; it was never put into commercial production. RCA had demonstrated a prototype transistor radio as early as 1952 and it is likely that they and the other radio makers were planning transistor radios of their own, but Texas Instruments and Regency were the first to offer a production model.
Sanyo 8S-P3 transistor radio, which received AM and shortwave bands.
The use of transistors instead of vacuum tubes as the amplifier elements meant that the device was much smaller, required far less power to operate than a tube radio, and was more shock-resistant. Transistors are current amplifiers, while tubes are voltage amplifiers. Since the transistor base draws current, its impedance is low in contrast to the high impedance of the vacuum tubes.[4] It also allowed "instant-on" operation, since there were no filaments to heat up. The typical portable tube radio of the fifties was about the size and weight of a lunchbox, and contained several heavy, non-rechargeable batteries — one or more so-called "A" batteries to heat the tube filaments and a large 45- to 90-volt "B" battery to power the signal circuits. By comparison, the "transistor" could fit in a pocket and weighed half a pound, or less, and was powered by standard flashlight batteries or a single compact 9-volt battery. (The now-familiar 9-volt battery was introduced for powering transistor radios.)
Listeners sometimes held an entire transistor radio directly against the side of the head, with the speaker against the ear, to minimize the "tinny" sound caused by the high resonant frequency of its small speaker enclosure. Most radios included earphone jacks and came with single earphones that provided only mediocre-quality sound reproduction. To consumers familiar with the earphone-listening experience of the transistor radio, the first Sony Walkman cassette player, with a pair of high-fidelity stereo earphones, would provide a greatly contrasting display of audio fidelity.
The transistor radio remains the single most popular communications device in existence. Some estimates suggest that there are at least seven billion of them in existence, almost all tunable to the common AM band, and an increasingly high percentage of those also tunable to the FM band. Some receive shortwave broadcasts as well. Most operate on battery power. They have become small and cheap due to improved electronics which has the ability to pack millions of transistors on one integrated circuit or chip. To the general public, the prefix "transistor" means a pocket radio; it can be used to refer to any small radio, but the term itself is now obsolete, since virtually all commercial broadcast receivers, pocket-sized or not, are now transistor-based. Regency TR-1 — the first transistor radio
Regency TR-1.
Two companies working together, Texas Instruments of Dallas, Texas and Industrial Development Engineering Associates (I.D.E.A.) of Indianapolis, Indiana, were behind the unveiling of the Regency TR-1, the world's first commercially produced transistor radio. Previously, Texas Instruments was producing instrumentation for the oil industry and locating devices for the U.S. Navy, and I.D.E.A. built home television antenna boosters, but the two companies worked together on the TR-1, looking to grow revenues for their respective companies by breaking into this new product area.[3] In May 1954, Texas Instruments had designed and built a prototype and was looking for an established radio manufacturer to develop and market a radio using their transistors. None of the major radio makers including RCA, Philco, and Emerson were interested. The President of I.D.E.A. at the time, Ed Tudor, jumped at the opportunity to manufacture the TR-1, predicting sales of the transistor radios at "20 million radios in three years".[5] The Regency TR-1 was announced on October 18, 1954 by the Regency Division of I.D.E.A., was put on sale in November 1954, and was the first practical transistor radio made in any significant numbers. Billboard reported in 1954 that "the radio has only four transistors. One acts a combination mixer-oscillator, one as an audio amplifier, and two as intermediate-frequency amplifiers."[6] One year after the release of the TR-1 sales approached the 100,000 mark. The look and size of the TR-1 was well received, but the reviews of the TR-1's performance were typically adverse.[5] The Regency TR-1 is patented by Richard C. Koch, US 2892931 , former Project Engineer of I.D.E.A.

 Raytheon 8-TP-1 — the second transistor radio

In February 1955 the second transistor radio, the 8-TP-1, was introduced by Raytheon. It was a larger portable transistor radio, including an expansive four-inch speaker and four additional transistors (the TR-1 used only four). As a result the sound quality was much better than the TR-1. An additional benefit of the 8-TP-1 was its efficient battery consumption. In July 1955, the first positive review of a transistor radio appeared in the Consumer Reports that said, "The transistors in this set have not been used in an effort to build the smallest radio on the market, and good performance has not been sacrificed." Following the success of the 8-TP-1, Zenith, RCA, DeWald, and Crosley began flooding the market with additional transistor radio models.[5]

MULOK

MOLOK
                       IKAN BANDENG BUMBU KECAP

BAHAN:
1 ekor bandeng pindang (berat 800 gram), potong 3 bagian
2 sdm minyak goreng
2 batang daun bawang, potong-potong
3 buah cabai hijau besar, potong menurut selera
3 buah cabai merah besar, potong menurut selera
6 buah belimbing sayur, potong menurut selera
3 lembar daun jeruk
2 batang serai, memarkan
5 cm kunci, memarkan
2 cm lengkuas, memarkan
2 cm jahe, memarkan
500 ml air
50 ml kecap manis
Haluskan:
3 butir bawang merah
3 siung bawang putih
1/2 sdt garam
3 cm kunyit, bakar

CARA MEMBUAT:

1. Panaskan minyak, tumis bumbu halus hingga harum, masukkan daun bawang, aduk rata. Tambahkan cabai merah, cabai hijau, daun jeruk, serai, kunci, lengkuas, dan jahe, aduk rata.
2. Masukkan air dan kecap manis, didihkan.
3. Masukkan bandeng, tomat, dan belimbing sayur, masak sebentar dan angkat. Sajikan hangat.

PENJAS

PENJAS
SEJARAH BOLA BASKET

 Bola basket adalah olahraga bola berkelompok yang terdiri atas dua tim beranggotakan masing-masing lima orang yang saling bertanding mencetak poin dengan memasukkan bola ke dalam keranjang lawan. Bola basket sangat cocok untuk ditonton karena biasa dimainkan di ruang olahraga tertutup dan hanya memerlukan lapangan yang relatif kecil. Selain itu, bola basket mudah dipelajari karena bentuk bolanya yang besar, sehingga tidak menyulitkan pemain ketika memantulkan atau melempar bola tersebut.

Bola basket adalah salah satu olahraga yang paling digemari oleh penduduk Amerika Serikat dan penduduk di belahan bumi lainnya, antara lain di Amerika Selatan, Eropa Selatan, Lithuania, dan juga di Indonesia.

Sejarah perkembangan

Basket dianggap sebagai olahraga unik karena diciptakan secara tidak sengaja oleh seorang pastor. Pada tahun 1891, Dr. James Naismith, seorang pastor asal Kanada yang mengajar di sebuah fakultas untuk para mahasiswa profesional di YMCA (sebuah wadah pemuda umat Kristen) di Springfield, Massachusetts, harus membuat suatu permainan di ruang tertutup untuk mengisi waktu para siswa pada masa liburan musim dingin di New England.Terinspirasi dari permainan yang pernah ia mainkan saat kecil di Ontario,Naismith menciptakan permainan yang sekarang dikenal sebagai bola basket pada 15 Desember 1891.

Menurut cerita, setelah menolak beberapa gagasan karena dianggap terlalu keras dan kurang cocok untuk dimainkan di gelanggang-gelanggang tertutup, dia lalu menulis beberapa peraturan dasar, menempelkan sebuah keranjang di dinding ruang gelanggang olahraga, dan meminta para siswanya untuk mulai memainkan permainan ciptaannya itu.

Pertandingan resmi bola basket yang pertama, diselenggarakan pada tanggal 20 Januari 1892 di tempat kerja Dr. James Naismith. "Basket ball" (sebutan bagi olahraga ini dalam bahasa Inggris), adalah sebutan yang digagas oleh salah seorang muridnya. Olahraga ini pun menjadi segera terkenal di seantero Amerika Serikat. Penggemar fanatiknya ditempatkan di seluruh cabang YMCA di Amerika Serikat. Pertandingan demi pertandingan pun segera dilaksanakan di kota-kota di seluruh negara bagian Amerika Serikat.

Pada awalnya,setiap tim berjumlah sembilan orang dan tidak ada dribble,sehingga bola hanya dapat berpindah melalui pass (lemparan). Sejarah peraturan permainan basket diawali dari 13 aturan dasar yang ditulis sendiri oleh James Naismith. Aturan dasar tersebut adalah sebagai berikut.

1. Bola dapat dilemparkan ke segala arah dengan menggunakan salah satu atau kedua tangan.

2. Bola dapat dipukul ke segala arah dengan menggunakan salah satu atau kedua tangan, tetapi tidak boleh dipukul menggunakan kepalan tangan (meninju).

3. Pemain tidak diperbolehkan berlari sambil memegang bola. Pemain harus melemparkan bola tersebut dari titik tempat menerima bola, tetapi diperbolehkan apabila pemain tersebut berlari pada kecepatan biasa.

4. Bola harus dipegang di dalam atau diantara telapak tangan. Lengan atau anggota tubuh lainnya tidak diperbolehkan memegang bola.

5. Pemain tidak diperbolehkan menyeruduk, menahan, mendorong, memukul, atau menjegal pemain lawan dengan cara bagaimanapun. Pelanggaran pertama terhadap peraturan ini akan dihitung sebagai kesalahan, pelanggaran kedua akan diberi sanksi berupa pendiskualifikasian pemain pelanggar hingga keranjang timnya dimasuki oleh bola lawan, dan apabila pelanggaran tersebut dilakukan dengan tujuan untuk mencederai lawan, maka pemain pelanggar akan dikenai hukuman tidak boleh ikut bermain sepanjang pertandingan. Pada masa ini, pergantian pemain tidak diperbolehkan.

6. Sebuah kesalahan dibuat pemain apabila memukul bola dengan kepalan tangan (meninju), melakukan pelanggaran terhadap aturan 3 dan 4, serta melanggar hal-hal yang disebutkan pada aturan 5.

7. Apabila salah satu pihak melakukan tiga kesalahan berturut-turut, maka kesalahan itu akan dihitung sebagai gol untuk lawannya (berturut-turut berarti tanpa adanya pelanggaran balik oleh lawan).

8. Gol terjadi apabila bola yang dilemparkan atau dipukul dari lapangan masuk ke dalam keranjang, dalam hal ini pemain yang menjaga keranjang tidak menyentuh atau mengganggu gol tersebut. Apabila bola terhenti di pinggir keranjang atau pemain lawan menggerakkan keranjang, maka hal tersebut tidak akan dihitung sebagai sebuah gol.

9. Apabila bola keluar lapangan pertandingan, bola akan dilemparkan kembali ke dalam dan dimainkan oleh pemain pertama yang menyentuhnya. Apabila terjadi perbedaan pendapat tentang kepemilikan bola, maka wasitlah yang akan melemparkannya ke dalam lapangan. Pelempar bola diberi waktu 5 detik untuk melemparkan bola dalam genggamannya. Apabila ia memegang lebih lama dari waktu tersebut, maka kepemilikan bola akan berpindah. Apabila salah satu pihak melakukan hal yang dapat menunda pertandingan, maka wasit dapat memberi mereka sebuah peringatan pelanggaran.

10. Wasit berhak untuk memperhatikan permainan para pemain dan mencatat jumlah pelanggaran dan memberi tahu wasit pembantu apabila terjadi pelanggaran berturut-turut. Wasit memiliki hak penuh untuk mendiskualifikasi pemain yang melakukan pelanggaran sesuai dengan yang tercantum dalam aturan 5.

11. Wasit pembantu memperhatikan bola dan mengambil keputusan apabila bola dianggap telah keluar lapangan, pergantian kepemilikan bola, serta menghitung waktu. Wasit pembantu berhak menentukan sah tidaknya suatu gol dan menghitung jumlah gol yang terjadi.

12. Waktu pertandingan adalah 4 quarter masing-masing 10 menit

13. Pihak yang berhasil memasukkan gol terbanyak akan dinyatakan sebagai pemenang.


Pada Agustus 1936, saat menghadiri Olimpiade Berlin 1936, ia dinamakan sebagai Presiden Kehormatan Federasi Bola Basket Internasional. Terlahir sebagai warga Kanada, ia menjadi warga negara Amerika Serikat pada 4 Mei 1925.

TINKOM

TINKOM
PERANGKAT KERAS KOMPUTER

Perangkat keras komputer adalah semua bagian fisik komputer, dan dibedakan dengan data yang berada di dalamnya atau yang beroperasi di dalamnya, dan dibedakan dengan perangkat lunak (software) yang menyediakan instruksi untuk perangkat keras dalam menyelesaikan tugasnya.
Batasan antara perangkat keras dan perangkat lunak akan sedikit buram kalau kita berbicara mengenai firmware, karena firmware ini adalah perangkat lunak yang "dibuat" ke dalam perangkat keras. Firmware ini merupakan wilayah dari bidang ilmu komputer dan teknik komputer, yang jarang dikenal oleh pengguna umum.
Komputer pada umumnya adalah komputer pribadi, (PC) dalam bentuk desktop atau menara kotak yang terdiri dari bagian berikut:

BAHASA INDONESIA

BAHASA INDONESIA
SURAT KUASA
Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama          : ( pemberi kuasa )
Pekerjaan : ( pemberi kuasa)
Alamat       : ( pemberi kuasa)
Menerangkan bahwa dengan ini memberi kuasa kepada :
Nama          : ( penerima kuasa )
Pekerjaan : ( penerima kuasa)
Alamat       : ( penerima kuasa)
Untuk mewakili atau bertindak untuk dan atas nama pemberi kuasa sebagai …. (jabatan / kekuasaan pemberi kuasa, sebutkan pula dasar kekuatan dari pemberi kuasa, misalnya adanya SK).
Untuk itu penerima kuasa dikuasakan untuk… (tujuan pemberian kuasa).
Kekuasaan ini diberikan dengan hak untuk melimpahkan (recht van substitute) baik sebagian atau seluruhnya yang di kuasakan ini kepada orang lain.
Demikian surat kuasa ini dibuat untuk digunakan sebagaimana mestinya.
                                                                                                         Mei, ______2011
    Penerima Kuasa                                                                       Pemberi Kuasa
Materai
(______________)                                                             (_______________)

EKONOMI

ekonomi

uANG
 
Hari Senin kemarin tanggal 31 Oktober 2011, Bank Indonesia merilis pecahan 20.000, 50.000 dan 100.000 Rupiah desain baru. Perbedaannya lumayan banyak, silahkan anda perhatikan sendiri.

Bagi teman-teman yang belum memiliki saya akan menyediakannya :
Satu paket masing2 berisi satu lembar Rp.100.000, Rp.50.000 dan Rp.20.000 dengan total harga Rp.170.000 (belum termasuk ongkos kirim). Pemesanan maksimal 3 paket. Kondisi uang UNC. Bagi yang berminat silahkan email saya.


Peluncuran uang kertas desain baru


Pecahan 20.000 Rupiah desain baru



Pecahan 50.000 Rupiah desain baru